Indonesia,
seperti yang saya tahu, bahkan mungkin masyarakat dunia pun paham, bahwa Negara
yang satu ini, negara kita, kaya akan keanekaragaman hayati. Di antara keanekaragaman
hayati tersebut, banyak tanaman herbal (berkhasiat mengobati) yang tumbuh di
tanah subur ini. Bahkan, masih banyak tanaman-tanaman yang sesungguhkan punya
potensi sebagai obat belum ter-expose
oleh masyarakat, bahkan ilmuwan. Menurut wacana yang pernah saya baca (Khoirul
& Arifah: 2010), ada sekitar 30.000 jenis tumbuhan obat yang tumbuh di
Indonesia.
Tumbuhan-tumbuhan
yang bersifat mengobati tersebut, biasanya dikenal masyarakat Indonesia dengan sebutan
“jamu”, atau sekarang lagi nge-trend-nya
dengan sebutan “herbal”. Menurut pandangan saya, sekarang memang lagi
zaman-zamannya berobat dengan “pengobatan alternatif” melalui tanaman herbal sebab
pandangan masyarakat yang sudah mulai paham bahwa obat herbal alias jamu lebih
aman (tidak berefek samping) pada tubuh karena memang tubuh kita ini istilahnya
bersifat organic, dan jika diobati dengan jamu yang bersifat organic pula maka akan berbeda efeknya
jika tubuh kita diobati dengan bahan kimia. Selain itu banyak pula dokter pada
zaman sekarang ini yang menganjurkan pasiennya untuk berobat alternatif.
Masyarakat
berpikir bahwa jamu itu hanya yang pahit-pahit, butuh penyeduhan dalam
penyajian, dan tambahan madu atau permen untuk mengurahi pahitnya. Namun sebenarnya
bukan, jamu sebenarnya, seperti yang saya sebut di atas, segala tumbuhan yang
bersifat mengobati, jadi misalnya seperti yang pernah saya baca di laman IPB, buah
markisa ternyata berpotensi merilekskan syaraf, berarti dapat dikatakan markisa
itu adalah jamu. Jadi jamu bukan melulu seperti obat tradisional yang
membosankan, tidak cocok dengan penyakit orang modern, dan dipandang sebelah
mata serta ditakuti anak-anak. Malahan, bisa dijadikan olahan yang menarik
sehingga setidaknya jamu Indonesia bisa dikonsumsi oleh masyarakatnya sendiri
dan lestari.
Fakta
yang dikemukakan oleh IPB biofarmaka dalam lamannya tentang markisa yang saya
paparkan sebelumnya memang saya rasakan kebenarannya. Rasanya yang asam,
apalagi saat bijinya ikut dikunyah, maka akan keluar sensasi asam yang luar
biasa, mampu membuat saya merasa entah mengapa, sensasi senang seketika,
mungkin itu yang dimaksud merilekskan syaraf. Jadi, bisa dikatakan markisa
merupakan jamu untuk pereda “galau”. Dalam jurnal IPB (H.S. Darusman,
dkk, 2012) dikemukakan bahwa buah
kepel
(Stelechocarpus burahol),
ternyata mampu menjadi “oral deodorant”. Yang paling bagus digunakan untuk oral deodorant ini adalah bagian pulp dari buah kepel itu sendiri. Ada lagi
khasiat cabe rawit yang ternyata mampu melegakan hidung yang tersumbat. Begitu banyak
tumbuhan yang menurut pandangan masyarakat tidak memiliki potensi menyembuhkan
ternyata mampu menjadi obat sehari-hari. Tak diragukan bahwa tanaman yang
berpotensi menjadi tanaman jamu di Indonesia ini berlimpah dan perlu untuk diteliti
lagi dan dilestarikan, setidaknya dipekarangan rumah yang relatif mudah
merawatnya.
Untuk
jamu sendiri memang proses penyembuhannya butuh waktu lebih lama (perlahan)
ketimbang obat kimia, namun penyembuhannya bersifat memperbaiki bagian yang
terluka dan menyeluruh. Beda dengan bahan kimia yang memang waktu
penyembuhannya lebih cepat namun belum tentu cocok dengan tubuh kita yang
memang bersifat organic seperti yang
saya paprkan sebelumnya. Jadi, dikatakan jamu lebih unggul pada segi keamanan
untuk tubuh ketimbang obat modern berbahan dasar kimia.
Untuk
membudayakan jamu menjadi obat bagi mayarakat, cara penyajian jamu itu sendiri perlu
diperhatikan dan dibuat semenarik mungkin. Perlu dikemas sedemikian rupa agar
masyarakat tertarik untuk mengkonsumsinya. Misalnya mungkin yang awalnya tumbuhan
herbal hanya disajikan dalam bentuk simplisia (tumbuhan dalam bentuk kering)
yang harus diseduh dahulu untuk menikmati khasiatnya, maka tumbuhan-tumbuhan
herbal tersebut bisa dikemas dalam bentuk pil, sehingga lebih meyakinkan dan
mengkonsumsinya pun simpel. Mungkin juga dijadikan bubuk/serbuk lalu dibuat
tambahan dalam makanan, atau mungkin didirikan kedai jamu yang menyajikan jamu
dalam menu-menu menarik seperti ice cream
temulawak, roti rasa markisa, dan sebagainya. Sehingga, akhirnya masyarakat
dapat menikmati jamu dengan senikmat-nikmatnya dengan lidah mereka dan tubuhnya
pun ikut menikmati khasiatnya. Selain itu, jamu Indonesia akan lestari dan
terkenal di tanah sendiri bahkan bisa lebih mendunia. LESTARILAH JAMU INDONESIA!
Daftar
Pustaka
H.S. Darusman,
M. Rahminiwati, S. Sadiah, I. Batubara, L.K. Darusman, and T. Mitsunaga. 2012. Indonesian Kepel Fruit (Stelechocarpus burahol) as Oral
Deodorant. Journal of Medicinal Plant.6
(2): 180-188.
Khoirul, M Teguh
& Arifah Fa. 2010. Sapu Bersih Semua
Penyakit dengan Ramuan Tradisional. Yogyakarta: Citra Media
http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/568-herbal-plants-collection-markisa (diakses pada tanggal 11 September
2014 pukul 08.32 WIB)

gambar bersumber dari laman blog.sidpicky.com/tag/indonesia/
ReplyDeletefilm perang terbaik sepanjang masa
ReplyDelete